NewsSpace

NASA Jajaki Servis Komersial untuk Teleskop Hubble

November 01, 2026 / Aldy Dwi Prasetyo
Teleskop Antariksa Hubble mengorbit di atas Bumi setelah misi servis kedua
Teleskop Antariksa Hubble kembali ke orbit sebagai teleskop yang lebih baik setelah misi servis kedua pada Februari 1997. Kredit: NASA

NASA mulai menjajaki kemungkinan melibatkan perusahaan swasta untuk memperpanjang umur Teleskop Antariksa Hubble. Dalam rilis yang diterbitkan NASA Science pada Jumat, 30 Oktober 2026, badan antariksa Amerika Serikat itu mengumumkan telah menerbitkan Request for Information (RFI) pada 29 Oktober untuk mengetahui kemampuan industri dalam layanan servis di antariksa (in-space servicing) bagi Hubble.

Langkah ini muncul karena Hubble, seperti semua wahana di orbit rendah Bumi, perlahan kehilangan ketinggian. Tanpa intervensi, teleskop yang sudah beroperasi lebih dari tiga dekade ini diperkirakan akan masuk kembali ke atmosfer dalam beberapa tahun ke depan.

Tiga Opsi yang Ditawarkan ke Industri

Menurut NASA, RFI ini mencari minat komersial untuk tiga jenis pekerjaan. Pertama, kemungkinan melakukan misi untuk menaikkan Hubble ke ketinggian yang lebih tinggi agar masa kerja ilmiahnya bertambah. Kedua, melakukan servis pada Hubble untuk meningkatkan kemampuannya. Ketiga, melakukan masuk kembali ke atmosfer secara aman dan terkendali, atau pembuangan orbit, ketika misi Hubble berakhir.

Perlu dicatat, RFI bukanlah kontrak dan bukan keputusan untuk menggelar misi. Dokumen semacam ini dipakai untuk memetakan apa yang mampu ditawarkan industri sebelum sebuah badan memutuskan langkah berikutnya. NASA menyatakan RFI tersebut terbuka untuk tanggapan hingga pukul 15.00 EST, Senin, 30 November 2026.

Mengapa Hubble Terus Turun

NASA menjelaskan bahwa ketinggian Hubble terus berkurang akibat hambatan atmosfer (atmospheric drag). Meskipun sangat tipis, sisa atmosfer di orbit rendah Bumi tetap memberi gaya hambat kecil yang terus-menerus pada wahana. Masalahnya, Hubble tidak memiliki sistem propulsi sendiri untuk mempertahankan orbitnya.

Berdasarkan analisis NASA, Hubble kemungkinan akan masuk kembali ke atmosfer pada rentang 2033 hingga 2034. Karena itu, NASA memperkirakan sebuah misi, jika memang dilakukan, perlu terlaksana paling lambat pada 2032.

Sikap Pimpinan NASA

Administrator NASA Jared Isaacman, seperti dikutip dalam rilis tersebut, menyatakan bahwa Hubble masih punya sains penting di depannya dan NASA semestinya menimbang setiap peluang yang masuk akal agar teleskop itu tetap bekerja selama mungkin. Ia menambahkan, jika ada cara yang inovatif dan hemat biaya untuk memperpanjang umur aset yang sudah berada di orbit, NASA berkewajiban kepada pembayar pajak Amerika dan komunitas ilmiah untuk menjajakinya.

Nicky Fox, associate administrator Science Mission Directorate di Markas Besar NASA, menyebut Hubble sebagai ikon nasional yang telah mengubah cara manusia memandang alam semesta selama lebih dari 35 tahun. Menurutnya, industri komersial berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dengan kemampuan baru untuk menangkap dan menservis satelit di antariksa. Dengan waktu yang masih tersedia sebelum perkiraan masuknya Hubble ke atmosfer, NASA ingin menjajaki berbagai kemungkinan untuk menaikkan orbit Hubble sambil mengembangkan misi unggulan (flagship) penggantinya.

Siapa yang Mengoperasikan Hubble

Hubble adalah proyek kerja sama internasional antara NASA dan ESA (European Space Agency). Goddard Space Flight Center milik NASA di Greenbelt, Maryland, mengelola teleskop dan operasi misinya, dengan dukungan Lockheed Martin Space yang berbasis di Denver. Operasi sains Hubble dijalankan oleh Space Telescope Science Institute di Baltimore, yang dioperasikan oleh Association of Universities for Research in Astronomy.

Sejak diluncurkan pada 1990, Hubble telah beberapa kali diservis langsung di orbit oleh astronaut, termasuk misi servis kedua pada Februari 1997 yang ditampilkan dalam foto di atas. Bedanya, kali ini NASA membuka pintu bagi layanan dari sektor komersial.

Analisis Bugo Center: Tantangan Teknis Menaikkan Orbit Hubble

Bagian ini adalah pandangan redaksi Bugo Center, bukan pernyataan NASA.

Dari sisi rekayasa, menaikkan orbit sebuah teleskop yang tidak dirancang untuk dipasangi pendorong bukan pekerjaan sederhana. Wahana servis harus bisa mendekat dan menambat (docking atau capture) ke struktur Hubble tanpa merusak permukaan atau instrumen yang sensitif. Setelah tertambat, gaya dorong harus diberikan secara halus dan seimbang terhadap pusat massa gabungan agar tidak menimbulkan momen puntir atau beban struktural berlebih pada sambungan.

Ada pula pertanyaan tentang manfaat jangka panjang. Hambatan atmosfer sangat bergantung pada aktivitas Matahari, sehingga laju penurunan orbit bisa berubah dari tahun ke tahun. Semakin tinggi Hubble dinaikkan, semakin lama ia bertahan, tetapi kebutuhan propelan dan kompleksitas misi juga meningkat. Opsi ketiga dalam RFI, yaitu masuk kembali secara terkendali, juga penting karena wahana sebesar Hubble perlu diarahkan agar sisa puingnya jatuh di wilayah yang aman.

Menurut kami, RFI ini menarik karena menjadi uji nyata bagi industri servis satelit komersial: apakah teknologi penangkapan dan pendorongan di orbit sudah cukup matang untuk menangani salah satu aset ilmiah paling berharga di antariksa.

Langkah Selanjutnya

Untuk saat ini, NASA baru mengumpulkan informasi. Tanggapan industri ditunggu hingga 30 November 2026, dan dari sana NASA akan menimbang apakah misi penaikan orbit, servis, atau pembuangan terkendali layak ditempuh sebelum batas waktu 2032. Bagi pembaca yang mengikuti dinamika program NASA lainnya, baca juga ulasan kami tentang teleskop ultraviolet UVEX dan perubahan rencana pendarat Bulan NASA.

Video: NASA Cari Cara Menyelamatkan Hubble

Sumber