NewsSpace

NASA Setujui Teleskop UVEX untuk Peta Ultraviolet Langit

Oktober 28, 2026 / Aldy Dwi Prasetyo
Ilustrasi teleskop luar angkasa UVEX milik NASA di antara bintang-bintang
Ilustrasi artis teleskop luar angkasa UVEX (UltraViolet EXplorer). Kredit: SDL/NASA/JPL-Caltech

NASA resmi memberi lampu hijau untuk membangun UVEX (UltraViolet EXplorer), teleskop luar angkasa yang akan memetakan seluruh langit dalam cahaya ultraviolet. Dalam pengumuman tertanggal Selasa, 27 Oktober 2026, NASA menyatakan proyek UVEX telah lolos tinjauan teknis dan programatik yang disebut Key Decision Point C (KDP-C). Dengan lolosnya tahap ini, NASA berkomitmen meluncurkan UVEX paling lambat Januari 2031 dengan total biaya siklus hidup (lifecycle cost) sebesar 590 juta dolar AS.

UVEX pertama kali dipilih untuk dikembangkan pada 2024 sebagai misi kelas menengah dalam program Explorer NASA (Medium-Class Explorer). Menurut Caltech, yang memimpin misi ini, UVEX akan menjadi misi luar angkasa ultraviolet besar pertama dalam dua dekade terakhir.

Apa Arti Key Decision Point C?

Dalam pengelolaan proyek NASA, KDP-C adalah titik ketika sebuah misi dinilai siap beralih dari tahap perancangan ke tahap implementasi, yaitu pembuatan perangkat keras, perakitan, dan pengujian. Pada titik inilah NASA menetapkan komitmen jadwal peluncuran dan anggaran resmi. Caltech menyebut bahwa dengan komitmen NASA ini, tim UVEX akan mulai membangun dan menjalankan misi.

Misi ini dipimpin oleh Fiona Harrison dari Caltech sebagai principal investigator, dan dikelola oleh UC Berkeley Space Sciences Laboratory. Caltech dan UC Berkeley akan memegang peran utama dalam pengembangan instrumen, Northrop Grumman membangun wahana antariksa (spacecraft), sementara Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA menyediakan aspek kunci teknologi detektor. Space Dynamics Laboratory juga tercatat sebagai institusi yang terlibat. Data misi nantinya akan diproses dan diarsipkan oleh IPAC, pusat data astrofisika di Caltech.

Peta Ultraviolet Pertama untuk Seluruh Langit

Cahaya ultraviolet tidak terlihat oleh mata manusia dan energinya lebih tinggi dibanding cahaya tampak. Karena sebagian besar radiasi ultraviolet diserap atmosfer Bumi, pengamatan di panjang gelombang ini praktis harus dilakukan dari luar angkasa.

Menurut Caltech, UVEX akan menjadi teleskop pertama yang membuat peta dalam (deep map) seluruh langit dalam cahaya ultraviolet. Selain memotret, UVEX juga akan merekam spektrum detail, yaitu memecah cahaya objek kosmik menjadi komponen panjang gelombangnya untuk mengungkap unsur penyusun dan karakteristik lainnya.

UVEX melanjutkan warisan misi GALEX (Galaxy Evolution Explorer) yang juga dipimpin Caltech dan memetakan langit ultraviolet pada 2003 hingga 2013. Bedanya, UVEX disebut hingga 100 kali lebih sensitif dibanding pendahulunya dan punya kemampuan khusus untuk mengamati peristiwa yang berubah cepat (time-domain astronomy).

Mengejar Tabrakan Bintang Neutron

Salah satu target paling menarik bagi UVEX adalah tabrakan antara dua bintang neutron. Peristiwa seperti ini memancarkan gelombang gravitasi yang bisa dideteksi observatorium LIGO dan Virgo. Pada 2017, satu tabrakan semacam itu tercatat menghasilkan emas dan unsur berat lainnya.

NASA menyebut UVEX akan mampu dengan cepat mengarahkan teleskopnya ke sumber cahaya ultraviolet, termasuk ledakan setelah peristiwa gelombang gravitasi. Menurut Caltech, UVEX dapat mencitrakan peristiwa transien seperti ini, termasuk supernova, dalam hitungan jam setelah peringatan dikirim ke komunitas astronomi.

"With UVEX, we will now be able to follow up on gravitational-wave events in ultraviolet light," kata Mansi Kasliwal, profesor astronomi di Caltech dan direktur Palomar Observatory. Ia juga membandingkannya dengan Hubble: "Hubble is, of course, amazing and does have some ultraviolet capabilities, but it cannot rapidly pivot to observe real-time events."

Galaksi Kecil dan Bintang yang Terkelupas

UVEX juga dioptimalkan untuk menemukan jutaan galaksi kecil di sekitar kita yang aktif membentuk bintang baru. Menurut Harrison, galaksi-galaksi ini sulit dibedakan dari galaksi jauh jika diamati dalam cahaya tampak. "Ultraviolet light will make them easier to find," ujarnya.

Target lainnya adalah bintang masif biru yang lapisan luarnya, yang kaya hidrogen, telah terkelupas oleh bintang pendampingnya (stripped stars). Kareem El-Badry, associate professor astronomi di Caltech, menyebut saat ini baru sedikit bintang jenis ini yang diketahui. "UVEX will find hundreds," katanya.

Detektor dari Teknologi Kamera Ponsel

Dari sisi rekayasa, lonjakan sensitivitas UVEX sebagian berasal dari detektor ultraviolet baru yang dikembangkan bersama oleh Caltech, SRI International, dan JPL. Detektor berbasis silikon ini diturunkan dari teknologi sensor CMOS, yang ditemukan di JPL pada 1990-an dan kini dipakai di miliaran kamera ponsel. Sensor CMOS standar membaca cahaya tampak, sedangkan detektor UVEX dimodifikasi dengan teknik yang dikembangkan JPL selama puluhan tahun agar peka terhadap ultraviolet, lengkap dengan filter dan lapisan khusus untuk rentang panjang gelombang yang diinginkan.

Menurut Caltech, detektor ultraviolet serupa juga sedang dipertimbangkan untuk Habitable Worlds Observatory (HWO), konsep misi unggulan NASA berikutnya yang bertujuan memotret langsung planet di sekitar bintang mirip Matahari.

Analisis Bugo Center

Bagian ini merupakan analisis redaksi Bugo Center, bukan pernyataan NASA atau Caltech. Lolosnya KDP-C menunjukkan desain UVEX dinilai cukup matang untuk dibangun, sehingga tantangan berikutnya lebih banyak bersifat rekayasa: membuat, merakit, dan menguji instrumen serta wahana sesuai jadwal dan anggaran. Kemampuan "berputar cepat" ke target baru juga berarti sistem kendali sikap (attitude control) dan perencanaan operasi harus responsif. Menarik juga melihat bagaimana teknologi CMOS, yang lahir dari riset antariksa lalu populer di ponsel, kini kembali dipakai untuk misi sains luar angkasa. Pembaca yang mengikuti berakhirnya misi teleskop Swift NASA bisa melihat UVEX sebagai salah satu penerus kemampuan pengamatan ultraviolet dan peristiwa transien di luar angkasa.

Untuk kabar antariksa NASA lainnya, baca juga NASA Ubah Rencana Pendarat Bulan Artemis untuk 2028.

Tonton juga video singkat BUGO CENTER tentang teleskop Swift yang orbitnya terus menurun:

Sumber