NewsSpace

Misi Teleskop Swift NASA Berakhir, Orbit Turun Akibat Drag Atmosfer

Oktober 26, 2026 / Aldy Dwi Prasetyo
Ilustrasi observatorium Swift NASA mengorbit di atas Bumi

Ilustrasi Neil Gehrels Swift Observatory mengorbit di atas Bumi. Sumber: NASA's Goddard Space Flight Center Conceptual Image Lab

NASA resmi mengakhiri misi teleskop antariksa Neil Gehrels Swift Observatory. Dalam rilis yang terbit pada Jumat, 23 Oktober 2026, NASA menyatakan Swift telah menghentikan operasinya setelah orbitnya turun ke ketinggian sekitar 275 kilometer (171 mil) di atas permukaan Bumi. Satelit pemburu ledakan sinar gamma ini diperkirakan akan masuk kembali ke atmosfer dalam beberapa minggu ke depan, setelah hampir 22 tahun bekerja di orbit.

Akhir misi ini menarik bukan hanya dari sisi astronomi, tetapi juga dari sisi engineering. Swift tidak berhenti karena instrumennya rusak, melainkan karena hambatan atmosfer (atmospheric drag) yang terus menggerus orbitnya, ditambah gagalnya upaya komersial untuk mendorong satelit ini ke orbit yang lebih tinggi.

Orbit Swift Terus Turun Akibat Atmospheric Drag

Menurut NASA, semua satelit di orbit rendah Bumi mengalami hambatan atmosfer. Aktivitas Matahari yang meningkat belakangan ini memperbesar efek tersebut pada Swift, sehingga satelit ini mulai turun dengan cepat. Untuk memperpanjang umurnya, tim sempat menghentikan sementara observasi sains guna meminimalkan drag sambil menunggu misi peningkatan orbit (reboost).

Setelah misi reboost tersebut batal, Swift kembali melakukan observasi sains dan mengamati ratusan target, mulai dari sisa ledakan bintang, lubang hitam supermasif aktif di galaksi jauh, hingga komet di Tata Surya. Namun, menurut NASA, kembalinya observasi justru menambah drag, dan Swift kembali turun dengan cepat.

Pada 20 Oktober 2026, Swift mencapai ketinggian 275 kilometer. Pada titik ini, wahana tidak lagi mampu mengimbangi efek drag dan masuk ke safe mode. Tim operasi di Penn State, University Park, kemudian mengirim perintah yang secara efektif mengakhiri operasi Swift untuk persiapan masuk kembali ke atmosfer. Observasi terakhirnya dilakukan pada hari yang sama. NASA juga menjelaskan bahwa drag yang lebih besar di ketinggian ini membuat teleskop Swift tidak bisa lagi mengarah stabil ke target astronominya.

Misi Reboost Komersial yang Tidak Berhasil

NASA sebelumnya mencoba menyelamatkan Swift lewat misi servis robotik. Pada September 2025, NASA memberikan kontrak kepada perusahaan Katalyst Space untuk menyiapkan misi servis Swift dalam waktu kurang dari setahun. Wahana LINK milik Katalyst diluncurkan pada 3 Juli 2026 dengan roket Northrop Grumman Pegasus XL dari Kwajalein Atoll di Samudra Pasifik.

Setelah peluncuran, LINK mengalami masalah kendali sikap (attitude control). Pada Agustus 2026, NASA dan Katalyst mengumumkan bahwa LINK tidak akan menangkap maupun mendorong Swift ke orbit yang lebih tinggi seperti rencana awal, meski tetap mencoba operasi rendezvous dan proximity untuk mendemonstrasikan kemampuan kunci servis satelit. Menurut SpaceNews, misi ini resmi berakhir pada akhir September dengan masuknya LINK kembali ke atmosfer.

Dirancang untuk Dua Tahun, Bertahan Lebih dari 20 Tahun

Swift diluncurkan pada 20 November 2004 dan mulai bekerja sebulan kemudian. Misi utamanya dirancang hanya dua tahun. Pada 2018, NASA menamai ulang misi ini untuk menghormati Neil Gehrels, peneliti utama pertamanya, yang meninggal dunia.

Sepanjang kariernya, menurut NASA, Swift mengamati lebih dari 2.000 ledakan sinar gamma (gamma-ray burst), mempelajari lebih dari 1.400 supernova, menyaksikan bintang yang tercabik oleh lubang hitam, memantau galaksi aktif, melakukan survei sinar-X seluruh langit, dan mengamati asteroid serta komet. Data Swift berkontribusi pada sekitar 7.000 makalah ilmiah.

"Swift delivered an incredible, lasting return on investment for the nation, designed for a two-year primary mission but productive for more than 10 times as long," kata Shawn Domagal-Goldman, direktur Divisi Astrofisika di Markas Besar NASA.

Kunci Sukses Swift: Kecepatan Respons

Swift dibangun sebagai observatorium multipanjang gelombang, dengan teleskop optik/ultraviolet dan sinar-X yang sejajar untuk mencitrakan dan mempertajam posisi ledakan. Menurut peneliti utama misi, S. Bradley Cenko dari NASA Goddard, Swift harus mendeteksi dan melokalisasi ledakan sinar gamma, mengirim posisinya ke observatorium lain, lalu memutar teleskopnya ke lokasi ledakan sebelum afterglow-nya memudar. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar satu menit.

Kecepatan itu terbukti penting. Pada Mei 2005, Swift berhasil menangkap afterglow ledakan sinar gamma pendek GRB 050509B yang hanya berlangsung 0,03 detik. Pengamatan ini menjadi ledakan pendek pertama dengan afterglow yang terdeteksi, dan mendukung model bahwa ledakan sinar gamma pendek kemungkinan berasal dari tabrakan dua bintang neutron. Sistem perencanaan Swift juga fleksibel: observasi dapat diperintahkan dari darat dalam hitungan menit, dengan hingga 75 target independen per hari.

Arsip Swift mencakup hampir 22 tahun data, termasuk lebih dari 1,5 juta citra dari Ultraviolet/Optical Telescope, dengan total sekitar 12 terabyte yang terbuka untuk publik. NASA menyatakan akan terus mencari opsi baru untuk merespons cepat peristiwa kosmik, sambil memanfaatkan misi yang ada untuk mengisi kekosongan.

Catatan dari Sisi Engineering

Bagian ini adalah analisis redaksi Bugo Center, bukan pernyataan NASA. Kasus Swift menunjukkan betapa besarnya pengaruh atmospheric drag pada satelit di orbit rendah, terutama saat aktivitas Matahari meningkat dan atmosfer atas mengembang. Menariknya, menurut penjelasan NASA, mode operasi satelit sendiri ikut menentukan laju turunnya orbit: saat observasi dihentikan, drag bisa ditekan, sedangkan saat observasi dilanjutkan, drag bertambah. Misi LINK juga menjadi pengingat bahwa servis satelit yang awalnya tidak dirancang untuk diservis, apalagi dengan jadwal kurang dari setahun, adalah pekerjaan berisiko tinggi, dan masalah kendali sikap pada wahana servis saja sudah cukup untuk menggagalkan rencana.

Untuk berita antariksa NASA lainnya, baca juga artikel kami tentang perubahan rencana pendarat Bulan Artemis untuk 2028 dan citra radar pertama satelit NISAR.

Video: Mengapa Swift Jatuh

Kami juga membuat ringkasan video berbahasa Inggris tentang berakhirnya misi Swift di kanal YouTube BUGO CENTER:

Sumber

  • NASA Science (23 Oktober 2026). NASA's Swift Mission Ends, Leaves Behind Scientific Bonanza. science.nasa.gov
  • NASA Science (23 Oktober 2026). NASA's Swift Mission Ends Ahead of Re-Entry. science.nasa.gov
  • NASA. NASA Updates Next Steps for Commercial Swift Boost Mission. nasa.gov
  • SpaceNews (24 Oktober 2026). NASA's Swift space telescope ends mission. spacenews.com
  • SpaceNews (25 September 2026). Swift reboost mission ends with Link reentry. spacenews.com
  • Gambar: NASA's Goddard Space Flight Center Conceptual Image Lab. science.nasa.gov