Satelit Radar Jepang iQPS Wadatsumi II Capai Orbit
![]() |
| Roket Electron di Launch Complex 1, Mahia, Selandia Baru (foto arsip misi TROPICS, Mei 2023, bukan foto peluncuran WADATSUMI-II). Kredit: NASA Kennedy Space Center / Rocket Lab (domain publik) |
Perusahaan antariksa swasta asal Jepang, iQPS (Institute for Q-shu Pioneers of Space, Inc.), kembali menambah satu satelit ke konstelasi radarnya. Satelit QPS-SAR-20 yang diberi nama "WADATSUMI-II" berhasil diluncurkan dengan roket Electron milik Rocket Lab pada Selasa, 3 November 2026 pukul 01.41 waktu Jepang (JST), atau Senin, 2 November pukul 23.41 WIB. Peluncuran dilakukan dari Launch Complex 1 di Semenanjung Mahia, Selandia Baru, pukul 05.41 waktu setempat.
Rocket Lab menamai misi ini "The Sea God Surveys". Menurut Rocket Lab dan Space.com, semua tahapan berjalan sesuai rencana dan satelit dilepaskan di orbit rendah Bumi (LEO) pada ketinggian sekitar 575 km.
Kontak Pertama dan Kondisi Satelit
Dalam siaran persnya, iQPS menyebut WADATSUMI-II dilepaskan ke orbit yang direncanakan sekitar 50 menit setelah lepas landas. Komunikasi pertama dengan satelit terjalin kira-kira 30 menit setelah pelepasan, dan tim di ruang kendali iQPS di Fukuoka memastikan seluruh peralatan satelit bekerja normal serta satelit dalam kondisi sehat.
Tahap berikutnya adalah penyesuaian di orbit, pembukaan (deployment) antena radar, lalu pengambilan citra pertama. Antena inilah komponen kunci satelit SAR milik iQPS. Berdasarkan deskripsi muatan di Next Spaceflight, satelit QPS-SAR menggunakan antena besar yang ringan dan dapat dilipat saat peluncuran agar muat di dalam fairing roket kecil seperti Electron.
Peluncuran ke-10 untuk iQPS dan Penerbangan ke-99 Electron
Misi ini merupakan peluncuran Electron ke-10 untuk iQPS, seperti dikonfirmasi Rocket Lab dan Space.com. Rocket Lab menyebut seluruh peluncuran untuk iQPS sejauh ini berhasil 100 persen. Perusahaan juga menyatakan masih ada delapan peluncuran Electron khusus lagi yang sudah dipesan iQPS untuk melengkapi konstelasinya pada 2030.
Bagi Rocket Lab sendiri, ini adalah penerbangan Electron ke-99 dan misi ke-20 perusahaan sepanjang 2026. Space.com mencatat bahwa dari 99 penerbangan tersebut, 90 adalah misi orbital Electron, sementara sembilan lainnya adalah HASTE, versi suborbital Electron untuk uji penerbangan hipersonik. Electron sendiri adalah roket kecil dua tingkat setinggi sekitar 18 meter yang dirancang khusus untuk membawa satelit kecil.
Rocket Lab juga menjelaskan bahwa inklinasi orbit WADATSUMI-II, yaitu 42 derajat menurut halaman misinya, dipilih khusus untuk mengoptimalkan frekuensi kunjungan ulang (revisit) satelit iQPS di atas kawasan Asia-Pasifik.
Konstelasi 36 Satelit Radar
iQPS sedang membangun konstelasi sekitar 36 satelit synthetic aperture radar (SAR) di orbit rendah. Berbeda dengan satelit optik yang memotret dengan cahaya tampak, satelit SAR memancarkan gelombang radar sendiri dan merekam pantulannya. Karena itu, satelit SAR dapat "melihat" menembus awan dan tetap bekerja pada malam hari, sebagaimana dijelaskan Space.com.
Menurut Next Spaceflight, target akhir konstelasi ini adalah memantau titik tertentu di Bumi setiap sekitar 10 menit. Rocket Lab menyebut tujuan konstelasi iQPS adalah menyediakan citra SAR beresolusi tinggi yang hampir real-time bagi pengguna di seluruh dunia.
Jadwal berikutnya sudah ditetapkan. iQPS mengumumkan satelit QPS-SAR-19 "YAMATSUMI-II" akan diluncurkan dalam misi Electron bernama "The Mountain God Rises", dengan jendela peluncuran paling cepat 14 November 2026. Astronomy.com mencatat misi tersebut akan menjadi peluncuran Electron yang ke-100.
Analisis Bugo Center
Bagian ini adalah analisis redaksi Bugo Center, bukan pernyataan iQPS atau Rocket Lab. Dari sisi rekayasa, tantangan utama satelit SAR kecil adalah antena. Resolusi dan sensitivitas radar sangat dipengaruhi ukuran antena, sementara roket kecil hanya menyediakan ruang dan massa muatan yang terbatas. Solusinya adalah antena yang dilipat saat peluncuran lalu dibuka di orbit. Karena itu, tahap pembukaan antena yang akan dilakukan iQPS berikutnya adalah momen kritis, setara pentingnya dengan peluncuran itu sendiri: mekanisme harus bekerja sempurna di lingkungan vakum dan perubahan suhu yang ekstrem.
Bagi negara tropis seperti Indonesia yang wilayahnya sering tertutup awan, kemampuan SAR untuk menembus awan dan bekerja siang maupun malam sangat relevan, misalnya untuk pemantauan banjir, deformasi tanah, atau kapal di laut. Konstelasi dengan inklinasi yang dioptimalkan untuk Asia-Pasifik juga berarti kawasan kita termasuk wilayah yang lebih sering dilintasi. Tren ini sejalan dengan misi radar besar seperti NISAR yang pernah kami bahas dalam artikel NASA dan ISRO kirim citra radar pertama dari satelit NISAR, hanya saja iQPS memilih pendekatan banyak satelit kecil, bukan satu satelit besar.
Untuk berita peluncuran satelit lain di kawasan Asia, baca juga ISRO luncurkan satelit navigasi NVS03 untuk sistem NavIC. Sementara itu, perkembangan roket kecil di Eropa bisa dibaca dalam ulasan kami tentang keberhasilan roket Vega-C.
Sumber
- iQPS - QPS-SAR-20 "WADATSUMI-II" was launched and made the first communication successfully (3 November 2026)
- Rocket Lab - MISSION SUCCESS: Rocket Lab Launches 99th Electron Mission (2 November 2026)
- Rocket Lab - The Sea God Surveys (halaman misi)
- Space.com - Rocket Lab launches Japanese Earth-observing satellite on 99th mission to date (2 November 2026)
- Next Spaceflight - The Sea God Surveys, Electron/Curie
- Astronomy.com - South Korea eyes rocket debut and China lines up four launches
- Wikimedia Commons - TROPICS Rocket Launch, NASA KSC (domain publik)
